wisata hobby dan lingkungan hidup

Rabu, 24 Juli 2013

TOUR DE BROMO DI HARI ULANG TAHUN

Tulisan Wisata Jawa Timur : Wisata Lampion di kota Batu Malang

Silahkan Klik Topik Lainnya :

Objek Wisata Gunung Bromo yang berlokasi Jawa Timur.

Tanggal 5 maret 2013 saya ulang tahun ke lima puluh empat. Acara ulang tahun kali ini sangat istimewa karena saya merayakannya dengan berwisata berdua istri tercinta ke gunung Bromo.
Perjalanan dimulai tanggal 4 maret 2013, dengan penerbangan Sriwijaya rute Jakarta -  Malang. Sampai di bandara Abdulrahman Saleh Malang sekitar jam 11.00 WIB dan dilanjutkan perjalanan ke hotel yang memerlukan waktu sekitar tigapuluh menit.
Untuk mencapai Bromo perjalanan dari kota malang dimulai pada pukul 01.30 dinihari dengan mobil travel yang disewa. Waktu tempuh untuk perjalanan tersebut adalah 2,5 jam. Perjalanan malam hari berjalan lancar meskipun hujan turun secara sporadis sepanjang perjalanan. Namun meskipun waktu menunjukkan pukul dua sampai pukul tiga dinihari, lalu lintas disepanjang jalan antara Malang – Pasuruan cukup ramai dengan kendaraan , baik kendaraan pribadi, bus penumpang maupun truk-truk pengangkut barang. Keramaian lalu lintas semakin bertambah setelah melewati Pasuruan karena jalur tersebut merupakan jalur jalan pantai utara antara Surabaya menuju ujung Jawa Timur dan selanjutnya menyeberang ke Pulau Bali. Berbagai bus penumpang dan kendaraan pribadi berebut melaju dengan kecepatan tinggi. Sedangkan berbagai truk yang kecepatannya lebih rendah tidak habis-habis melintas.
Menjelang kota Probolinggo, jarum jam telah menunjukkan pukul tiga dinihari, Toyota Avanza yang kami sewa berbelok ke kanan menuju arah Selatan. Jalan ini telah memasuki kawasan wisata Gunung Bromo, dengan lalu lintas yang jauh lebih sepi, namun jalan juga lebih kecil dan menanjak serta berbelok-belok. Perjalanan memerlukan waktu setengah jam untuk sampai di Sukapura, dimana mobil berhenti untuk istirahat sejenak pada sebuah SPBU. Sukapura adalah sebuah kota kecamatan yang juga meliputi   daerah Wisata Bromo. Di tempat pemberhentian tersebut cukup banyak rombongan wisatawan yang beristirahat sejenak, baik yang manggunakan mobil ataupun rombongan dengan kendaraan roda dua.
Setelah beristirahat sekitar 20 menit kamipun melanjutkan perjalanan lewat jalan yang semakin menanjak, sehingga pada pukul 04.00 sampailah kami ke Dusun Cemoro Lawang yang merupakan pusat  kawasan wisata bromo. Namun cuaca yang saat itu hujan menyebabkan kami tidak dapat segera berangkat. Ditambah informasi bahwa akibat hujan deras maka pada lokasi atau jalan menuju kawah bromo dilanda banjir. Sehingga beberapa rombongan yang telah berangkat lebih dahulu terpaksa kembali. Bahkan ada yang terjebak banjir.


Cemoro Lawang

 


Cemoro Lawang

Sebelum berangkat kami sholat subuh dahulu pada mesjid yang terdapat di lokasi wisata tersebut. Udara sangat dingin sehingga terasa menggigil saat terkena air wudlu. Menurut informasi pemandu wisata yang mengantar kami pada dinihari tersebut temperatur udara berkisar sekitar 10 derajat Celcius. Beruntung kami membeli sarung tangan dan penutup kepala (kupluk) sehingga dapat mengurangi dinginnya udara.
Setelah selesai sholat dan menunggu beberapa lama, pada pukul 05.00 kamipun berangkat. Perjalanan ke lokasi wisata harus menggunakan kendaraan off-road berupa jeep wisata dari penduduk setempat karena melintasi medan jalan yang sulit dilalui dengan mobil standar. Medan yang ekstrim tersebut berupa padang rumput atau savanna yang digenangi air, padang pasir serta tanjakan dan turunan yang tajam.
 

Kendaraan Jeep Off-Road siap menempuh medan ekstrim

Cuaca masih gelap dan hujan gerimis ketika mobil jeep off-road yang kami sewa berangkat dari Dusun Cemoro Lawang. Rute pertama yang ditempuh adalah melalui lautan pasir yang kadang-kadang terdapat aliran air akibat hujan sehingga tidak jelas yang mana rute jalan, namun air hujan yang turun ke pasir meskipun deras, cepat merembes diantara pasir dan mengering. Dari sini kami memaklumi kenapa perjalanan harus ditempuh dengan kendaraan off-road. Bayangan awalnya saya mengira rutenya akan penuh tanjakan curam, namun ternyata relative datar. Tapi meskipun jalannya datar, adanya lautan pasir membuatnya tidak akan dapat ditempuh dengan kendaraan biasa.
Namun pemandangan di sekeliling memang sangat eksotis dan menakjubkan. Bayangkan cuaca yang sangat dingin dan berkabut, berada pada lautan pasir yang mungkin hanya ada di gurun-gurun, bukit-bukit dan gunung-gunung di sekeliling muncul dari balik kabut. Serasa berada di suatu tempat yang jauh dari Indonesia. Mungkin bayangan gurun Gobi seperti itu, tapi ini di Bromo. Itu masih di Indonesia !

Padang Savana dan Bukit Teletubies.
Perjalanan menempuh lautan pasir memakan waktu sekitar 20 menit, cuaca mulai terlihat terang, lautan pasir berganti dengan padang savanna, yaitu padang padang datar dengan tanaman rumput setinggi satu sampai dua meter. Sekeliling savanna menghijau , dan kami melewati jalan yang merupakan rute yang sering dilalui sehingga rumputnya telah hilang atau pendek sekali, jalan atau rute ini banyak yang digenangi air, sehingga pengemudi kendaraan harus berhati-hati mengikuti rute yang aman, karena salah memilih rute, maka kendaraan akan terperosok dan terjebak tidak dapat jalan lagi. Namun sekeliling padang savanna tersebut pemandangan bukit sangat indah. Penduduk disini ,atau mungkin asalnya dari para wisatawan, menyebutnya sebagai Bukit Teletubies, karena pemandangannya sangat mirip dengan pemandangan pada filem anak-anak terkenal Teletubies.


Padang Savana
 

Berjalan menuju Bukit Teletubies
 Pasir berbisik

Pasir berbisik adalah nama sebuah filem yang diambil dari nama tempat tersebut. Karena pada tumpukan bukit pasir tersebut, jika kita berada di tempat tersebut dan angin sedang bertiup, seolah terdengar orang sedang berbisik karena gesekan diantara tumpukan pasir yang terkena angin.
Pada lokasi Pasir Berbisik tersebut juga terdapat Patung Singa, yaitu batu karang yang berada di tengah tengah lokasi lautan pasir tersebut. Bentuk batukarang tersebut sepintas menyerupai patung singa, sehingga menjadi objek yang ramai dikunjungi dan difoto oleh para wisatawan


Lokasi pasir berbisik

 Patung Singa


Kawah Bromo
Waktu telah menjelang pukul 07.00 pagi, setelah puas menikmati pemandangan lautan pasir dan “patung singa” perjalanan dilanjutkan menuju kawasan kaldera gunung Bromo. Daerah kawasan kaldera gunung Bromo adalah kawasan yang dipenuhi oleh lautan pasir yang luas. Dari tempat parkir mobil, di kejauhan di kaki gunung Bromo kami dapat melihat Pura Bromo yang timbul tenggelam di Balik Kabut. Memang saat kami mengunjungi kawasan kaldera Bromo di pagi tersebut cuaca kembali diguyur hujan dan angin yang besar, sehingga kami hanya turun sebentar di sekitar mobil dan melihat Pura dan Puncak Bromo dari kejauhan. 

Dari lokasi parkir tersebut tersedia kuda tunggangan yang dapat disewa untuk perjalanan sekeliling lautan pasir sampai ke puncak Gunung. Namun cuaca yang hujan di pagi itu menyebabkan jarang wisatawan yang memanfaatkannya untuk berkeliling. Meskipun para penduduk setempat menawarkan untuk menyewa kuda. Mungkin kalau cuaca lebih cerah akan kami akan betah berlama-lama di sana, namun hujan angin serta rasa dingin yang menusuk menyebabkan kami memutuskan segera menuju objek berikutnya.
 

Puncak Bromo dan Pura di Latar Belakang

Rombongan kuda menunggu penumpang


 Puncak Pananjakan.
Objek terakhir kawasan wisata Bromo yang kami kunjungan adalah Puncak Pananjakan. Jalan menuju puncak ini cukup memadai berupa jalan aspal dengan kondisi sedang. Namun cukup curam dan sesuai namanya sangat menanjak, sehingga merupakan medan yang cocok untuk dilalui kendaraan dengan penggerak 4 roda. Dari Puncak Pananjakan ini kita dapat melihat ke seluruh kawasan Bromo.
Pemandangan dari puncak Pananjakan sangat indah, Deretan gunung-gunung yang diselimuti kabut di kejauhan, serta cahaya matahari yang mulai muncul menerangi dataran tinggi tengger. Di lembah bromo terlihat daerah pertanian yang subur ditanami berbagai macam sayuran yang menghijau. Deretan pohon cemara terdapat dimana-mana melindungi lereng-lereng bukit dan lading-ladang pertanian sayur-mayur.

 Pemandangan dari puncak Penanjakan


Kembali ke Malang
Pukul delapan pagi kami kembali tiba di Dusun Cemoro Lawang. Cuaca telah berangsur cerah dan matahari telah muncul dengan sinarnya yang hangat dari balik gunung. Tiba saatnya bersiap-siap kembali ke kota Malang. Mata mulai terasa ngantuk setelah semalaman terjaga. Lebih-lebih setelah mobil Avanza yang membawa kami mulai meluncur dengan kecepatan sedang. Desa Cemoro Lawang mulai terlihat sibuk dengan aktivitas penduduknya, baik anak-anak sekolah dengan kegiatan belajar. Para petani mencangkul dan memelihara tanamannya, serta para pedagang dan pekerja yang lalu lalang menuju ke tempat kerjanya.
Namun perjalanan dari Bromo ke Malang ternyata membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan perjalanan berangkat dari Malang ke Bromo. Hal tersebut disebabkan perjalanan tersebut dilakukan pada pagi sampai siang hari, pada jam-jam sibuk. Sejak memasuki jalan negara Probolinggo ke arah Pasuruan, lalu lintas semakin ramai, lebih-lebih lagi saat melintas kota Pasuruan, terjadi kemacetan. Kalau saat berangkatnya pukul 01.30 dinihari kota malang terlihat sepi dan lalu lintas lancar, jauh sebelum memasuki kota Malang , kami harus mengikuti antrian kemacetan yang panjang. Alhasil jika perjalanan berangkat hanya membutuhkan waktu selama dua setengah jam (termasuk istirahat selama 20 menit di Sukapura), perjalanan pulang membutuhkan waktu lebih dari empat jam.
Alhamdulillah, akhirnya pada pukul 12.25 kami sampai dengan selamat di kota Malang.
-------------------------
Jakarta, 24 Juli 2013







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.