wisata hobby dan lingkungan hidup

Rabu, 08 Juli 2015

UMROH PART 2 : MASJID NABAWI

Tulisan Umroh lainnya : Umroh 1 : dari Bandung ke Madinah , Umroh 3 : Raudhah , Umroh 4 : Ziarah di Madinah , Umroh 5 : Belanja di Madinah , Umroh 6 : dari Miqat sampai Tahallul


Silahkan Klik Topik Lainnya :
Kegiatan Lingkungan dan Fakultas Teknik,  Wisata Padang Sumatra Barat,  Umroh Makkah Madinah,  Wisata Singapore,  Wisata Phuket Thailand,  Wisata Karimunjawa,  Wisata Malang Bromo,  Wisata Ende Flores,  Wisata Tidung Kepulauan Seribu,  Wisata Pangandaran,  Wisata BandungWisata Malang Batu,  Wisata Melaka Kuala Lumpur

Hari rabu 6 Mei 2015 pukul 17.30, setelah beristirahat sejenak di hotel kami berdua bersama dengan rombongan yang lain berangkat bersama-sama ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan sholat Magrib dan Isya.  Dari display yang ada di lobby hotel, jadual sholat untuk hari ini adalah sebagai berikut : Subuh pukul 04.30, zuhur 12.30, Ashar 15.55 , Magrib 18.53 dan Isya 20.18.  Jadi kami akan berada di Masjid Nabawi sekitar 3 jam, yaitu dari pukul 17.30 sampai sekitar 20.30.
Kami berangkat bersama-sama seluruh rombongan umroh sebanyak 28 orang, namun setelah sampai di Masjid Nabawi memang tidak bisa lagi bersama-sama, suasana disana sudah sangat ramai, jadi disana akhirnya sendiri-sendiri. Termasuk juga kami berdua. Karena tempat sholat jamaah laki-laki dan perempuan juga terpisah, maka saya dan istri lalu janjian , nanti sesudah magrib kami ketemu di halaman Masjid Nabawi persis di perbatasan pintu masuk untuk jamaah laki-laki dan perempuan.
Masjid Nabawi adalah Masjid yang dibangun sendiri oleh Rasulullah SAW, yaitu pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 1 Hijrah (662 M) , dengan ukuran awal sekitar 35 m  x 30 m. Selanjutnya masih oleh Rasulullah SAW pada tahun ke 7 Hijrah diperluas menjadi 50 m x 50 m. Selanjutnya perbaikan dan perluasan dilaksanakan oleh khalifah-khalifah dan raja-raja islam berikutnya.
Pada bulan Oktober 1985 Raja Fahd dari Kerajaan Arab Saudi memulai proyek perluasan termegah sepanjang sejarah Masjid Nabawi. Saat ini luas lantai dasar Masjid Nabawi sekitar 98.000 meter persegi yang dapat menampung jamaah sebanyak 167.000 orang, lantai atas seluas 67.000 meter persegi dapat menampung 90.000 jamaah. Kalau halaman masjid Nabawi dipenuhi jamaah, maka total jamaah yang dapat ditampung masjid Nabawi termasuk halamannya adalah lebih dari 1 juta jamaah. (Sumber : Mohammad Zainuddin, Tuntunan Manasik Haji, Umroh & Ziarah, 2005).

Masjid Nabawi menjelang Sholat Isya
 Masjid Nabawi saat ini merupakan bangunan yang sangat indah dan megah. Begitu kita masuk ke dalam Masjid maka terasa suasana yang sangat megah di dalamnya, udara di dalam masjid cukup sejuk dengan system penyejuk udara yang sangat baik sehingga membuat senang jamaah yang beribadah di dalamnya. Interior masjid dipenuhi dengan berbagai ornament pada tiang-tiang masjid dan dihiasi lampu-lampu Kristal yang indah sebagai penerangan. Tiang-tiang masjid tersebut juga dilengkapi kerangka dari bahan kuningan yang dilapisi emas untuk menyangga lampu-lampu Kristal.
Suasana di dalam Masjid
Selesai sholat Magrib sekitar pukul 19.20, akupun keluar dan menunggu di halaman Masjid pada daerah batas antara tempat jamaah laki-laki dan perempuan. Suasana sangat ramai dengan jamaah yang hilir mudik, karena ada yang keluar masjid ada yang masuk ke dalam. Dan yang menunggu bukan hanya aku, banyak bapak-bapak lain yang juga menunggu istrinya. Akhirnya istriku keluar dan kami sama-sama keliling di sekitar Masjid, melihat-lihat suasana Masjid di malam hari.  Masih ada waktu menjelang sholat isya yang jadualnya pada pukul 20.30.
Di luar halaman Masjid Nabawi yang luas tersebut dikelilingi berbagai bangunan-bangunan bertingkat yang megah, seperti hotel-hotel, pertokoan serta pusat perbelanjaan. Suasana ramai jamaah yang berkunjung ke Masjid juga dimanfaatkan oleh para pedagang, baik yang ada di toko-toko sekitar Masjid, maupun para pedagang kaki lima yang memenuhi jalan-jalan di sekitar Masjid. Dan karena begitu banyaknya jamaah Indonesia yang mengunjungi Madinah dan Makkah untuk menunaikan ibadah Umroh dan Haji, maka umumnya pedagang-pedagang tersebut bisa berbahasa Indonesia. Sehingga mungkin suasananya jadi mirip di pasar baru Bandung atau Pasar Tanah Abang Jakarta, dengan teriakan-teriakan pedagang yang menawarkan dagangannya. “ Lima real ……lima real , …… murah … murah !!!   Sepuluh real …. Sepuluh real …., diobral murah …….!!!!!!”

Tenda pelindung terik matahari
 Akhirnya kamipun singgah ke sebuah pasar swalayan yang ada di bangunan persis di luar halaman Masjid Nabawi. Supermarket tersebut merupakan salah satu cabang dari jaringan supermarket yang paling terkenal di Arab Saudi, jadinya suasana di dalam lebih sejuk dan nyaman untuk berbelanja. Kamipun mencoba membeli beberapa kurma yang telah diolah dan dikemas bagus, lengkap dengan coklat dan kacang almond sehingga cukup praktis untuk dibawa dan dijadikan oleh-oleh. Agak mahal harganya, tapi memang bagus, dibandingkan dengan kurma kiloan. Kami belinya hanya sedikit-sedikit. Waktunya juga cukup mepet, karena pukul 20.00 harus segera kembali ke Masjid untuk menunggu sholat Isya. Hanya sekedar ngecek harga dulu, khan di sini masih beberapa hari, jadi tidak perlu terburu-buru menuh-menuhi kopor.
Disamping beli kurma berlapis coklat dan kacang almond, kami juga membeli jeruk manis yang segar. Kan disini harus banyak makan buah-buahan, dan jeruk merupakan buah-buahan yang direkomendasikan untuk menambah daya tahan tubuh. Ada juga buah-buahan yang lain, anggur misalnya, kelihatan sangat segar dan enak untuk dimakan. Tapi katanya kurang baik, karena sangat manis sehingga bisa merangsang batuk yang sangat gampang menyerang orang Indonesia yang tidak biasa dengan cuaca yang kering di Arab Saudi. Eh, waktu mau bayar belanjaan tersebut, ternyata kasirnya orang Indonesia, dari Cianjur. “Kumaha Kang, damang ?”. Memang disini banyak sekali orang Indonesia, baik yang beribadah maupun yang bekerja. Jadi dimana-mana bisa ketemu saudara sekampung.
Tepat pukul 20.10 kamipun kembali ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan sholat Isya. Belanja kami memang hanya sedikit, sehingga dapat dibawa ke dalam Masjid. Karena jika barang belanjaan terlalu besar, maka tidak akan diijinkan dibawa masuk karena akan mengganggu kekhusukan ibadah sholat. Oh iya di dalam masjid disediakan air zamzam untuk diminum di tempat, untuk itu telah disediakan gelas-gelas kertas sekali pakai. Para jamaah juga boleh membawa pulang air tersebut secukup dan sepantasnya. Aku biasanya mengisi botol air mineral 600 ml dengan air zamzam untuk diminum di hotel.
Sekitar pukul 21.00 kami pulang ke hotel setelah menunaikan ibadah sholat isya. Tiba saatnya makan malam di ruang makan yang terletak di lantai Mezamin Hotel. Suasana cukup rame dengan para jamaah yang menginap di hotel tersebut. Karena ada beberapa rombongan yang bersamaan menginap di sana. Jadi tempat makannya juga dipisahkan menjadi beberapa sudut untuk masing-masing rombongan. Menunya makanan Indonesia, ada sop buntut, ada ikan goreng, gule ayam, sayur, dan buah. Lengkap dengan minuman, baik yang dingin maupun hangat seperti teh, kopi dan susu.
Karena malam-malam udara cukup dingin, umumnya jamaah mengambil minuman hangat. Tinggal racik sendiri, mau teh hangat, tinggal seduh air panas, celupkan teh, dan tambah gula. Banyak juga yang buat susu hangat. Kadang-kadang dibilang  “susu unta” ?. Benar enggak sih ? darimana ngumpulin unta dan diperah susunya untuk keperluan jutaan jamaah ?. Yang logis sih susu sapilah yang diimpor dari Eropa atau Australia. Tapi yang jelas makanan yang tersedia cukup mewah dan bergizi, sehingga meskipun rangkaian ibadah umroh cukup berat dan menguras energi dan ketahanan fisik, begitu sampai kembali di tanah air, berat badan malah bertambah. Alhamdulillah.
--------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.